
Generative AI, khususnya model text-to-image, mampu mengubah teks menjadi gambar baru. Sebagian besar menggunakan model difusi yang belajar dari pola dalam jutaan gambar di internet. Meski berguna, ada risiko: penyalahgunaan untuk hoaks, politik, konten berbahaya, hingga masalah hak cipta karena data latihnya sering pakai karya berhak cipta.
Pola vs Kreativitas
AI sebenarnya mesin pengenal pola, bukan pencipta ide orisinal.
Jika ruang digital dipenuhi hasil AI, potensi kreativitas murni manusia bisa terhambat.
Model AI kadang belajar dari output AI lain di internet, sehingga hasilnya makin bias dan menurun kualitasnya.
Contoh: tren “Ghibli Image” membuat banyak model terbiasa menghasilkan gambar bernuansa kuning meski tidak diminta.


Generative AI mengguncang dunia seni digital.