Generative AI Images: Between Patterns and Creativity

Materi 5

Generative AI, khususnya model text-to-image, mampu mengubah teks menjadi gambar baru. Sebagian besar menggunakan model difusi yang belajar dari pola dalam jutaan gambar di internet. Meski berguna, ada risiko: penyalahgunaan untuk hoaks, politik, konten berbahaya, hingga masalah hak cipta karena data latihnya sering pakai karya berhak cipta.

Pola vs Kreativitas

AI sebenarnya mesin pengenal pola, bukan pencipta ide orisinal.

  • AI: hanya mereproduksi pola yang sudah ada.
  • Manusia: melahirkan kreativitas dari emosi, intuisi, dan ide baru.

Jika ruang digital dipenuhi hasil AI, potensi kreativitas murni manusia bisa terhambat.

Fenomena “Model Collapse”

Model AI kadang belajar dari output AI lain di internet, sehingga hasilnya makin bias dan menurun kualitasnya.

Contoh: tren “Ghibli Image” membuat banyak model terbiasa menghasilkan gambar bernuansa kuning meski tidak diminta.

Dampak pada Industri

Generative AI mengguncang dunia seni digital.

  1. Cepat & murah, sehingga perusahaan lebih tergoda pakai AI ketimbang pekerjakan seniman.
  2. Kuantitas jadi lebih dihargai ketimbang kualitas.
  3. Berisiko mengancam mata pencaharian seniman manusia, meski kreativitas sejati tidak bisa digantikan AI.